Jenis-jenis Obligasi dan Cara Menghitung Obligasi

Di Indonesia ada tiga jenis produk investasi di pasar modal, yaitu: saham, reksa dana dan obligasi. Diantara ketiganya, obligasi merupakan instrumen yang memiliki tingkat risiko yang paling rendah. Tetapi imbal hasil yang di peroleh dari instrumen ini tidak sebesar saham dan reksa dana. Oleh karena itulah saham dan reksa dana masih menjadi pilihan para investor dalam berbisnis. Tapi walau demikian, akhir-akhir ini obligasi mengalami peningkatan jumlah investor.
cara menghitung obligasi
image source: www.kabar24bisnis.com

Apa itu Obligasi?

Obligasi adalah surat atau sertifikat pengakuan hutang yang di keluarkan oleh peminjam atas sejumlah dana yang di terima dari investor (Pemegang obligasi) selaku pihak yang memberi pinjaman. Intinya, sama aja ketika kita meminjam uang dari pihak tentu seperti perusahaan, dan mengembalikannya dalam jangka waktu tertentu. Sebagai kompensasi maka kita harus mengembalikan uang tersebut bersama dengan bunga atau bonus yang telah di sepakati.

Jenis- jenis Obligasi

Sama halnya dengan instrumen lainnya, obligasi juga terbagi menjadi beberapa jenis di dalamnya. Jadi ada baiknya kita pahami lebih dalam lagi. Simak jenis-jenis obligasi sebagai berikut.
baca juga: bisnis reksa dana

Jenis obligasi berdasarkan jaminan

  1. Secured Bond, Walaupun obligasi ini terbagi menjadi tiga, tetapi intinya hanya menyangkut dua faktor, yaitu: jaminan kekayaan yang dimiliki oleh penerbit dan jaminan menggunakan pihak ketiga. Adapun jenis-jenis obligasi secure bond adalah: guaranteed bond: obligasi yang di jamin oleh pihak ketiga, mortgage bond: jaminan menggunkan aset tetap atau hipotik, dan collateral trust bond: jaminan atas efek yang di miliki oleh penerbitnya
  2. Unsecured Bond, obliglasi yang tidak mempunyai jaminan dari penerbit.

Jenis Obligasi berdasarkan sisi penerbit

  1. Corporated Bond, obligasi yang diterbtikan oleh perusahaan swasta maupun perusahaan negara (BUMN)
  2. Government Bond, di terbitkan oleh pemerintah pusat
  3. Municipa Bond, di terbitkan oleh pemerintah daerah

Obligasi dalam system pembayaran bunga

  1. Coupun Bond, kupon yang bisa di uangkan secara periodik berdasarkan kesepakatan dari penerbit
  2. Floating Coupun Bond, tingkat kupon bunga yang di tentukan berdasarkan acuan (benchmark) tertentu sebelum jangka waktu pinjaman.
  3. Fixed Coupond Bond, tingkat kupon bunga yang di bayar secara periodik yang telah di tetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana.
  4. Zero Coupund Bond, pembayaran pokok pinjaman dan bunga sekaligus ketika jatuh tempo (bukan periodik)

Obligasi berdasarkan nilai nominal

  1. Konvensional Bond, Obligasi yang mempunyai satuan nilai nominal yang besar, biasanya Rp. 1 miliar per lot.
  2. Retail Bond, Obligasi dengan satuan nilai yang kecil.

Obligasi berdasarkan hak penukaran

  1. Putable Bond, obligasi dimana investor memiliki hak untuk mengharuskan emiten membeli kembali obligasi tertentu selama umur obligasi tersebut.
  2. Callable Bond, emiten mempunyai hak untuk membeli obligasi dengan harga tertentu sepanjang masa berlaku obligasi
  3. Exchangeable Bond, Pemegang obligasi mempunyai hak menukarkan saham perusahaan ke dalam sejumlah saham perusahaan afiliasi penerbitnya.
  4. Convertible Bond, Pemegang obligasi mempunyai hak untuk menukarkan obligasi dengan saham perusahaan penerbit obligasi.

Obligasi berdasarkan perhitungan imbal hasil

  1. Konvensional Bond, obligasi berdasarkan system bunga
  2. Syariah Bond, Menggunakan system bagi hasil.
Setelah memahami obligasi dan jenis-jenisnya, sekarang mari kita melangkah untuk membahas bagaimana cara menghitung obligasi.

Cara menghitung bunga Obligasi

Sebelum membahas cara menghitung obligasi, terlebih dahulu Anda harus pahami istilah-istilah yang di gunakan dalam menghitung obligasi berikut ini:
  • Suku Bunga: Persentase keuntungan dari bunga yang dibayar dalam periode tertentu.
  • Nilai Nominal (Face Value / FC): Nilai lembaran obligasi yang diterbitkan (Harga awal tawaran).
  • Nilai Kupon (C):  Bunga yang di dapatkan dalam satuan mata uang (Nilai Nominal x Suku Bunga).
  • Tarif Kupon (YTM): Persentase dari tarif yang di tetapkan oleh penerbit obligasi.
Untuk lebih jelasnya lagi, mari kita bahas dengan mengunakan contoh soal. Berikut ini adalah cara menghitung obligasi dengan anuitas:

  • Contoh soal 1
Selembar obligasi memiliki nilai Rp 50.000.000 dengan bunga 8% / tahun dan periode pembayaran setiap 3 bulan. Berapa besar bunga yang akan di peroleh oleh pembeli obligasi sesuai yang tertera pada kupon?

Pembahasan: Dari contoh soal diatas diketahui: Nilai Nominal / PV = 50.000.000, dan pembayaran bunga di bayarkan 4 kali. Maka suku bunga setiap pembayaran adalah:
b= 8% / 4 = 2%, jadi bunga pada kupon (C) adalah, C=  b x FV = 2% x 50.000.000 = Rp 1.000.000,-
baca juga: cara mendapatkan uang dari facebook selain berjualan
  • Contoh Soal 2
Lembaran obligasi sebesar Rp 5.000.000 memiliki suku bunga 8% / tahun yang di setor atau di bayarkan setiap awal bulan januari, April, Juli, Oktober dan tanggal pelunasannya pada 1 Oktober dengan kesanggupan kembali nilai emisi 110. Maka berapa besar uang yang akan di bayar?

Pembahasan: Diketahui, nilai nominal (FV) = 50.000.000 dan nilai emisi 110, yang berarti nilai emisi adalah 110% dari nilai nominal (110 x FV). Lalu bunga yang harus di bayar dengan suku bunga 8% adalah:
8% x 5.000.000 = Rp 400.000,-
Karena adanya emisi, maka kita harus menghitung emisi untuk mengetahui total jumlah yang harus di bayar, sebagai berikut:
110% x 5.000.000 = Rp 5.500.000,-
Maka total keseluruhan yang harus di bayar di akhir adalah:
Bunga + Nilai emisi: 400.000 + 5.500.000 = Rp 5.900.000,-
BERIKAN KOMENTAR ()